Posted by: veronicalucy on: November 7, 2008
Sejarah Mi Instan
Princess, siapa yang tak kenal mi instan? Makanan cepat saji dengan pilihan bumbu aneka rasa. Ya…mi instan memang makanan tua-muda yang cukup digemari. Ingin tahu siapa penemunya? Yuk, kita simak ceritanya!
Kisah si Yatim Piatu
Adalah Momofuku Ando, seorang bocah Jepang kelahiran tahun 1911, yang sejak berusia tiga tahun telah menjadi yatim piatu. Ando harus membantu neneknya mengurus rumah dan menjaga toko. Cita-citanya adalah menjasdi pedagang. Saat berusia 22 tahun, harta peninggalan orang tuanya pun digunakan untuk berdagang pakaian rajutan di Taiwan dan Osaka, Jepang. Usahanya terbilang maju. Ia pun bisa menyelesaikan pendidikannya.
Pria yang gigih ini, lalu mengembangkan usahanya berdagang senjata dan membuat bagian-bagian pesawat terbang. Ia sempat dituduh korupsi dan dijebloskan ke penjara. Pada tahun 1956, dua tahun setelah dipenjara, ia dibebaskan. Satu-satunya harta yang tertinggal adalah rumah. Pada masa itu, Jepang mengalami paceklik pangan. Amerika bayak menyumbangkan gandumnya ke Jepang. Harga terigu menjadi murah. Pemerintah Jepang pun menganjurkan rakyatnya mengonsumsi roti dan terigu sebagai pengganti nasi.
Di dekat Toserba Hankyu di Osaka, Ando melihat banyak orang menyantap mi dengan lahapnya. Pikirannya pun tergugah untuk membuat mi dari terigu. Ando pun mendapat ide untuk membuat mi instan. Ando mulai mewujudkan impiannya pada tahun 1958, dengan membeli mesin pembuat mi dan bereksperimen membuat mi instan di emper belakang rumahnya. Mula-mula mi digoreng agar lebih awet, gurih, dan cepat diolah. Lalu menimbang-nimbang rasa yang pas untuk kuah itu. Dipilihnya kuah ayam karena rasanya yang netral. Ando membawa contoh mi instannya ke sebuah toko serba ada. Ternyata mi instannya laku semua!
Mi Instan Mulai Dikenal
Karena emper rumahnya tak cukup menerima pesanan, Ando lalu memindahkan usahanya ke sebuah gudang kosong di Osaka. Sejak itu perusahaan-perusahaan besar berebut ingin menjadi penyalur mi instannya. Pada bulan Desember 1958 Ando menamai perusahaannya Nissin Foods. Beberapa bulan kemudian ia pindah ke sebuah pabrik seluas 20.000 m2. Di tahun 1960 ia membuka pabrik kedua, dan tahun berikutnya lahir pabrik baru lagi.
Meski mi instan laris manis, ia tak bosan-bosan bereksperimen untuk terus memperbaiki mutu. Di tahun 1966 ia berkeliling Eropa dan Amerika. Sepulangnya dari sana, ia menciptakan mi instan yang di kemas dengan gelas dari bahan styrofoam dan memakai garpu untuk memakannya. Pada tahun 1988, saat Ando genap berumur 77 tahun, ia membuka gedung yang disebut “Istana Mi “ di Shinjuku, Tokyo. Di dalam gedung tersebut ada beberapa restoran mi, tempat disko, dan museum mi.
Kini kita dapat menikmat mi instan kapan pun kita ingin. Mie instan yang masuk ke Indonesia tahun 1960-an sekarang berkembang dengan aneka rasa. Tak hanya rasa kaldu ayam, karena bumbunya tentu disesuaikan dengan lidah orang Indonesia!
Veronica Lucy
Dimuat di Princess 23, 2003, hal: 18-19
Posted by: veronicalucy on: November 7, 2008
Bentuk awal buku adalah lempengan tanah liat mirip batu nisan. Buku pertama yang pernah ditemukan berasal dari abad ke-4 SM. Ashurbanipal, raja Syria (650 SM) mempunyai perpustakaan yang terdiri dari 20 ribu lempengan tanah liat. Bangsa Mesir Kuno membuat buku dari gulungan papyrus. Dari kata papyrus inilah bermula kata “Paper” (kertas). Sejak abad ke-2, kulit binatang menggantikan papyrus karena dianggap lebih kuat.
Bangsa Cina kuno menulis di atas kain sutra. Pada tahun 105 SM, pengadilan Cina menggunakan pulp (bubur kayu) untuk menulis. Zaman inilah dianggap masa penggunaan kertas pertama kali.
Penulisan buku pada awalnya dilakukan dengan tangan sehingga untuk membuat beberapa buku sekaligus diperlukan waktu yang lama sehingga harga buku sangat mahal, dan hanya orang kaya yang dapat memilikinya. Oleh karena mahal, buku sering jadi sasaran pencurian. Pada masa itu, perpustakaan umum merantai koleksi bukunya. Sampai sekarang, perpustakaan yang masih merantai bukunya adalah Perpustakaan Wimborne Minster di Dorset dan Perpustakaan Gereja Wulfrum di Grantham, Inggris.
Pencetakan buku yang pertama dilakukan dengan balok-balok kayu. Metode ini pertama kali digunakan di Cina. Pada abad ke-11, bangsa Cina dan Korea mulai mengembangkan mesin pencetak yang bergerak. Hingga pada abad ke-15, Johanes Gutenberg dari Jerman menciptakan mesin cetak pertama. Pada awalnya mesin ciptaan Gutenberg ini dijalankan dengan tangan sehingga masih memerlukan waktu yang lama untuk membuat beberapa buku.
(Veronica Lucy)
Dimuat di Princess 21, 2003, hal: 18-19
Posted by: veronicalucy on: November 7, 2008
Asal mula Sabun
Kira-kira 4000 tahun yang silam, saat sabun belum dikenal, orang Hittite yang kini lebih dikenal sebagai orang Turki, biasa mencuci tangan dengan air yang diberi abu tanaman. Sementara itu, orang Romawi menggunakan lemak kambing yang dicampur dengan abu kayu api untuk menghasilkan sabun yang pada saat itu disebut sapo. Mereka menggunakan sapo untuk membersihkan badan dan mengobati luka. Orang Gaul di Eropa juga mengenal sapo. Bukan untuk mandi, tetapi untuk meminyaki rambut supaya mengkilat
Sampai abad ke-10, kebersihan dan ilmu pengetahuan masih terbengkalai. Baru setelah abad ke-10 orang mulai menyadari kaitan antara kebersihan dan kesehatan. Di Eropa pembuatan sabun mulai popular, terutama di Itali, Spanyol, Prancis dan Inggris. Sabun saat itu dibuat dari campuran minyak olive atau minyak zaitun dengan wewangian bunga-bungaan.
Pada abad ke-17 sabun hanya untuk orang kaya karena harganya mahal. Benda itu termasuk barang mewah sehingga dikenakan pajak tinggi di Inggris. Satu setengah abad kemudian, Perdana Mentri Inggris saat itu, Gladstone menghapus pajak sabun demi menjaga kebersihan. Industri sabunpun mulai tumbuh dimana-mana. Sabun saat itu padat, berbentuk bongkahan besar, berwarna dan sudah wangi hanya dijual kiloan. Baru kira-kira tahun 1830-an, sabun dibungkus kecil-kecil.
Nicholas Leblanc dari Prancis memperkenalkan sodium carbonat atau soda ash sebagai bahan sabun di abad ke-18. Dua puluh tahun kemudian, ilmuwan Prancis lainnya menciptakan sabun dari glycerine dan fatty acids. Itulah cikal bakal sabun berbahan kimia.
Industri Deterjen yang ditemukan pertama di Jerman merupakan campuran garam-garam natrium alkil sulfat dan natrium alkil benzena sulfat. Deterjen kemudian lebih banyak digunakan untuk mencuci pakaian, sedangkan sabun digunakan untuk membersihkan badan.
Sabun, kini menjadi barang yang mudah didapat, bentuknya bermacam-macam, ada kotak, bulat, cair dan harumnya bisa dipilih sesuai selera. Manusia di manapun harus mandi dengan sabun! Tahu, kan bedanya dengan yang nggak pakai sabun?
(Veronica Lucy)
Dimuat di Disney’s Princess 19, 2003, hal: 18-19
Posted by: veronicalucy on: November 7, 2008
PARFUM
Kata parfum berasal dari bahasa Latin “per fumum” yang berarti menembus. Penggunaan bahan-bahan wewangian bermula di Mesir untuk menyembah dewa-dewa. Bahan-bahan wewangian yang terdiri dari aneka bunga dan buah-buahan itu ditaruh sebagai sesaji.
Parfum tertua ditemukan dalam bentuk “balsem” yang sering dipakai untuk upacara kerajaan, pengawetan jenasah di jazirah Arab. Wewangian tersebut ditaruh dalam kendi mungil dalam tanah liat dan dibungkus dengan daun palem untuk menstabilkan aroma.
Pada abad ke-16, Catherine de Medici dari Prancis memperkenalkan parfum secara revolusioner sehingga dalam waktu singkat, Prancis mampu menjadi produsen dan pengekspor parfum yang disegani, bahkan dianggap sebagai pusat parfum. Disamping karena kemauan penguasa mempopulerkan parfum, juga karena iklim Prancis memang cocok ditanami berbagai macam jenis bunga sebagai bahan dasar pembuatan parfum.
Setelah mengalami berbagai penyempurnaan, pada abad ke-19, bahan pembuat parfum lebih beraneka ragam, tak hanya dari bunga-bungaan, bahan parfum dari daun-daunan, akar-akaran dan biji-bijian pun berkembang pesat. Bahkan di kemudian hari, dikenal parfum yang terbuat dari minyak, seperti minyak mawar dari Brazil, minyak cengkih dari Zanzibar dan minyak Lavender dari Prancis.
Kini parfum telah menjadi bagian hidup sehari-hari, ada yang berupa cologne, hand and body parfum, maupun parfum spray. Baunya pun beraneka aroma, ada aroma bunga, buah-buahan, rempah-rempah, bahkan aroma pantai. Hmmmm Princess pasti wangi kalau memakainya!
(Veronica Lucy)
Dimuat di Disney’s Princess 17, 2003, hal: 18-19
Posted by: veronicalucy on: November 7, 2008
Princess, siapa, sih yang nggak suka makan es krim? Ya…,es yang satu ini memang rasanya lezat. Apalagi ditambah coklat, strawberry, duren. Wah, nyam…nyam…nyam…nyam nikmatnya!
Konon kabarnya, es krim berasal dari negeri Cina. Kala itu es krim terbuat dari nasi lumat, susu atau buah-buahan yang dipendam di dalam salju. Oleh Marcopolo, penjelajah dunia dari Itali, resep resep es krim buatan Cina dibawa ke Itali di abad ke-13. Resep ini lalu dipercaya sebagai cikal bakal es krim.
Nah, resep es krim ini sangat dirahasiakan, hanya orang-orang kaya yang punya ruang khusus menyimpan balok-balok es yang bisa kenyang makan es krim. Namun es krim kala itu hanya ditambah campuran sari buah dan madu. Baru pada tahun 1560-an es krim bisa dibuat sekaligus dalam jumlah banyak dan mulai dijual dengan gerobak dorong.
Di awal abad ke-17, seorang koki kerajaan Perancis bernama Tissain yang bekerja di zaman Raja Charles I menemukan resep es krim tiga rasa. Oleh Sang Raja, Tissain diberi sejumlah uang agar tak memberi tahu resepnya pada orang lain. Namun, ketika Raja Charles wafat, Tissain menjual resep es krmi tersebut ke Café Napolitan di Paris. Sejak saat itu mulailah dikenal es krim tiga rasa.
Es krim pun berkembang pesat di selurh dunia. Kini kita mengenal es krim soda, es krim horen yang di Indonesia dikenal dengan es “tung-tung” atau “es nong-nong,” es krim cone dan es krim rasa buah.
Mau tahu es krim apa yang paling disukai di dunia?
Ternyata yang paling top adalah rasa coklat, vanili dan stroberry.
(Veronica)
Princess, buatlah es krim sesuai fantasimu!
Dimuat di Disney’s Princess 15, 2003, hal: 18-19
Posted by: veronicalucy on: Oktober 31, 2008
Mendengar kata lilin, apa yang Princess bayangkan? Ya, sebuah benda bersumbu yang dapat menyala? Namun lilin ternyata tidak hanya berfungsi sebagai penerang,lho!
Menurut para ahli, lilin pertama kali ditemukan oleh bangsa Mesir Kuno dan dipakai sejak 3500 SM sebagai alat penerangan. Mereka membuatnya dari serabut sumbu yang dikelilingi lemak atau lilin.
Selama berabad-abad, lilin menjadi alat penerangan yang cukup mahal di Eropa. Hanya di rumah para bangsawan dan di gereja-gereja terdapat banyak lilin. Namun, seiring dengan kemajuan zaman serta setelah ditemukannya listrik, lilin tidak lagi menjadi komoditas mewah para bangsawan. Kini lilin termasuk barang murah dan dapat kita jumpai di berbagai tempat.
Princess, bentuk lilinpun mengalami perubahan, lho. Kalau dahulu bentuknya panjang, putih dan polos, kini dapat kita jumpai lilin dalam berbagai bentuk. Ada yang berbentuk piramida, potongan kue tart, jeruk manis, setangkai mawar,suasana akuarium ikan atau berbentuk es cream. Bahkan kni beredar lilin beraroma, sehingga saat lilin menyala, bau semerbak akan tercium di sekitar lilin sampai akhirnya lilin padam.
Tips Princess!
Dimuat di Princess 13, 27 Januari 2003, hal: 12-13
Posted by: veronicalucy on: Oktober 31, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!